Kenapa Tradisi Seperti Ngalaksa Mulai Hilang di Banyak Daerah?

budaya mulai hilang
Peserta Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda yang digelar di Kabupaten Sumedang, Sabtu (2/5/2026).

Di banyak daerah, tradisi tidak lagi terdengar. Perlahan hilang, tanpa disadari. Tapi di Sumedang, ada satu hal yang masih bertahan.

SUMEDANG – Perubahan zaman tidak bisa dihindari. Teknologi berkembang, gaya hidup berubah, dan cara manusia menjalani kehidupan pun ikut bergeser.

Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang diam-diam mulai hilang: budaya.

Di berbagai daerah, tradisi yang dulu hidup kini hanya tersisa sebagai cerita. Tidak lagi dijalankan, tidak lagi dirasakan, bahkan tidak lagi dikenal oleh generasi muda.

Ada banyak alasan.

Sebagian karena modernisasi yang terlalu cepat. Sebagian lagi karena kurangnya ruang bagi budaya untuk tetap hidup. Dan tidak sedikit pula karena generasi mudanya mulai menjauh.

Budaya akhirnya hanya menjadi simbol bukan lagi bagian dari kehidupan.

Berbeda dengan itu, di Rancakalong, Sumedang, tradisi seperti Ngalaksa justru masih dijaga.

Tidak hanya dipertahankan, tetapi juga dijalankan secara nyata oleh masyarakatnya.

Mulai dari anak-anak, pemuda, hingga orang tua, semua terlibat. Tidak ada jarak antara generasi. Tidak ada sekat antara tradisi dan kehidupan sehari-hari.

Inilah yang membedakan.

Di saat banyak daerah kehilangan budaya karena ditinggalkan, di Sumedang budaya tetap hidup karena dijaga bersama.

Bupati Sumedang H. Dony Ahmad Munir sebelumnya menegaskan pentingnya budaya sebagai fondasi daerah.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki akar budaya yang kuat,” ungkapnya.

Tradisi seperti Ngalaksa bukan hanya tentang masa lalu. Ia adalah identitas. Ia adalah arah.

Tanpa budaya, sebuah daerah mungkin tetap berkembang. Tapi tanpa identitas, arah itu bisa hilang.

Dan mungkin, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi:
kenapa budaya hilang.

Tapi:
apakah kita masih ingin menjaganya?

Baca juga: