Di Balik Ngalaksa, Ada Cerita Warga yang Tak Banyak Diketahui

cerita warga ngalaksa
Serah terima babon di Upacara Pekan Adat Ngalaksa Tahun 2026 di Geoteater Rancakalong, Selasa (5/5/2026).

Bagi sebagian orang, Ngalaksa mungkin hanya terlihat sebagai upacara adat. Tapi bagi warga Rancakalong, ini adalah cerita tentang kebersamaan yang sudah hidup sejak lama.

SUMEDANG – Sehari sebelum Ngalaksa digelar, suasana di Rancakalong sudah terasa berbeda.

Warga mulai berkumpul, saling membantu menyiapkan berbagai kebutuhan. Tidak ada perintah resmi, tidak ada kewajiban tertulis semua berjalan karena kesadaran bersama.

Di sudut kampung, para ibu menyiapkan hidangan tradisional. Di tempat lain, para pemuda membantu mengangkut perlengkapan. Anak-anak pun ikut terlibat, meski hanya sekadar melihat dan belajar.

Gotong royong menjadi pemandangan yang begitu alami.

Tradisi ini bukan hanya soal acara, tetapi tentang bagaimana masyarakat menjaga hubungan satu sama lain. Ada nilai kebersamaan yang terus diwariskan tanpa harus diajarkan secara formal.

Camat Rancakalong Deni Suhandani menyebutkan bahwa Ngalaksa bukan hanya ungkapan syukur, tetapi juga ruang untuk memperkuat nilai sosial di masyarakat.

“Selain sebagai ungkapan syukur, Ngalaksa juga menjadi sarana memperkuat nilai gotong royong, kebersamaan, serta menjaga kearifan lokal di tengah masyarakat,” ujarnya.

Bagi warga, Ngalaksa adalah momen untuk kembali dekat dengan tetangga, dengan lingkungan, bahkan dengan tradisi yang mungkin mulai terlupakan.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, kebersamaan seperti ini menjadi sesuatu yang semakin jarang ditemukan.

Namun di Rancakalong, nilai itu masih hidup.

Dan mungkin, justru itulah makna paling dalam dari Ngalaksa bukan hanya menjaga budaya, tapi juga menjaga rasa sebagai manusia.

Di tengah dunia yang terus berubah, mungkin justru kebersamaan sederhana seperti inilah yang paling berharga.

Baca juga: