Saat Banyak Daerah Kehilangan Budaya, Sumedang Justru Menjaganya

tradisi ngalaksa sumedang
Bupati Sumedang H. Dony Ahmad Munir secara resmi membuka rangkaian Upacara Pekan Adat Ngalaksa Tahun 2026 di Geoteater Rancakalong, Selasa (5/5/2026).

Saat banyak daerah mulai kehilangan jati dirinya, Sumedang justru menunjukkan hal sebaliknya budaya tidak hanya bertahan, tapi hidup dan terus dijaga.

SUMEDANG – Di Rancakalong, budaya bukan sekadar warisan masa lalu. Ia hadir, bergerak, dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Melalui Upacara Adat Ngalaksa 2026, masyarakat kembali menegaskan bahwa tradisi bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dijalankan dan diwariskan.

Di balik setiap prosesi, tersimpan nilai yang lebih dalam dari sekadar seremoni. Ada rasa syukur atas hasil bumi, penghormatan terhadap padi sebagai sumber kehidupan, hingga kebersamaan yang terjalin tanpa sekat.

Tradisi ini juga mengingatkan bahwa kemajuan tidak harus menghapus identitas. Justru dari akar budaya yang kuat, sebuah daerah bisa berdiri lebih kokoh menghadapi perubahan zaman.

Bupati Sumedang H. Dony Ahmad Munir sebelumnya menegaskan pentingnya menjaga budaya sebagai fondasi pembangunan.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki akar budaya yang kuat. Dan di Sumedang, ruh budaya itu ada di Rancakalong,” ungkapnya.

Ngalaksa menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai lokal masih hidup. Anak-anak, pemuda, hingga orang tua terlibat dalam satu ruang yang sama belajar, merasakan, dan memahami arti kebersamaan.

Di tengah era digital yang serba cepat, tradisi seperti ini justru menjadi penyeimbang. Ia mengajarkan tentang akar, tentang identitas, dan tentang arti menjadi bagian dari sebuah komunitas.

Sumedang, lewat Rancakalong, seolah mengirim pesan sederhana namun kuat:
budaya tidak boleh hilang—karena di sanalah jati diri itu berada.

Baca juga: