SUMEDANG, KORSUM.ID – Suasana demokrasi di tingkat desa hendaknya tetap berlangsung dalam semangat persaudaraan. Hal tersebut disampaikan calon Kepala Desa Kirisik, Kecamatan Jatinunggal, Kabupaten Sumedang, Wawan Papat H, yang mengajak masyarakat untuk tidak menjadikan perbedaan pilihan sebagai alasan terjadinya perselisihan.
Wawan menilai, perbedaan pandangan maupun pilihan merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. Karena itu, masyarakat tetap dapat menyampaikan kritik dan pendapat, namun harus dilakukan dengan mengedepankan etika serta saling menghormati.
“Beda pilihan boleh, tetapi jangan sampai saling menyinggung dan merendahkan. Kita boleh kritis, tetapi tetap harus menghormati warga lain yang berbeda pilihan maupun pandangan,” kata Wawan.
Ia mengajak masyarakat Desa Kirisik untuk menunjukkan kedewasaan dalam berdemokrasi dengan menjadi warga yang cerdas, bijak dan mampu menghargai perbedaan.
Menurutnya, persatuan masyarakat merupakan modal penting dalam membangun desa. Sebab, pembangunan tidak dapat hanya dilakukan oleh pemerintah desa, tetapi membutuhkan keterlibatan dan kebersamaan seluruh masyarakat.
Semangat tersebut ia tuangkan melalui slogan “Panceg Dinu Galur, Ngajaga Lembur, Ngabangun Lembur.”
Bagi Wawan, makna slogan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik desa, tetapi juga bagaimana masyarakat bersama-sama menjaga lingkungan, nilai sosial, serta kehidupan bermasyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia. Menurutnya, pembangunan akhlak dan peningkatan kualitas masyarakat perlu berjalan beriringan dengan pembangunan infrastruktur.
“Tujuan utamanya adalah membangun akhlak, membangun infrastruktur, dan terutama meningkatkan kualitas masyarakat,” ujarnya.
Wawan berharap Desa Kirisik ke depan dapat menjadi lingkungan masyarakat yang nyaman, damai dan saling menghargai. Dengan kebersamaan, ia berharap berbagai potensi desa dapat dikembangkan untuk mewujudkan masyarakat yang sukses dan maju.
“Harapan kita, masyarakat Desa Kirisik bisa hidup nyaman, damai, sukses dan maju. Perbedaan jangan menjadi pemisah, tetapi menjadi bagian dari kehidupan demokrasi yang tetap menjunjung persaudaraan,” pungkasnya.
