SUMEDANG – Digitalisasi pemerintahan sedang dikejar di banyak daerah. Tapi realitanya, tidak semua berjalan mulus sementara Sumedang justru melaju lebih cepat.
Digitalisasi pemerintahan kini menjadi kebutuhan utama. Namun di lapangan, tidak semua daerah mampu menjalankannya secara optimal.
Masih banyak sistem berjalan sendiri-sendiri, data belum terhubung, hingga layanan publik yang belum sepenuhnya efisien. Di tengah kondisi itu, Kabupaten Sumedang justru tampil berbeda—bahkan menjadi salah satu contoh nasional dalam penerapan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE).
Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan pernyataan resmi pemerintah dan pengamatan jurnalistik. Tidak dimaksudkan sebagai penilaian menyeluruh terhadap seluruh daerah di Indonesia.
Untuk melihat bagaimana Sumedang membangun sistem digitalnya secara terintegrasi, baca di sini:
https://korsum.id/sumedang-jadi-contoh-nasional-ini-rahasia-digitalisasi-pemerintahannya/
Tantangan Umum: Sistem Banyak, Tapi Belum Terhubung
Salah satu tantangan terbesar dalam digitalisasi adalah banyaknya aplikasi yang belum terintegrasi.
Dampaknya:
- Data tidak sinkron
- Layanan menjadi kurang efisien
- Pengambilan keputusan tidak optimal
Direktur Eksekutif Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia, Sarman Simanjorang, juga menyoroti hal ini.
“Permasalahan utama kita adalah sistem yang belum terintegrasi, aplikasi yang berjalan sendiri-sendiri, dan data yang belum terhubung. Ini yang harus kita benahi bersama,” ujarnya.
Kunci Sumedang: Integrasi, Bukan Sekadar Aplikasi
Berbeda dengan banyak daerah lain yang masih berproses, Sumedang menekankan integrasi sebagai kunci utama.
Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, menegaskan:
“Seluruh aplikasi tersebut kami bangun bukan untuk memperbanyak sistem, tetapi untuk menyederhanakan layanan. Prinsip kami adalah integrasi, bukan duplikasi.”
Pendekatan ini membuat layanan menjadi lebih cepat, terukur, dan mudah diakses masyarakat.
DNA Digital: Fondasi yang Jelas
Sumedang menerapkan pendekatan DNA (Device, Network, Application):
- Device → perangkat kerja ASN
- Network → konektivitas hingga pelosok
- Application → layanan digital
Dengan fondasi ini, transformasi berjalan menyeluruh, bukan parsial.
Bukan Sekadar Teknologi, Tapi Perubahan Budaya
Digitalisasi di Sumedang tidak hanya soal sistem, tetapi juga perubahan cara kerja ASN dari manual ke digital, dari dilayani menjadi melayani.
Ini menjadi faktor penting yang sering luput dalam implementasi di banyak daerah.
Di tengah upaya digitalisasi yang terus berjalan, masyarakat masih menunggu layanan yang benar-benar cepat dan sederhana.
Kenapa Sumedang Bisa Lebih Cepat?
Jawabannya bukan semata teknologi, tetapi konsistensi, integrasi, dan arah kebijakan yang jelas.
Ketika banyak daerah masih dalam tahap penguatan sistem, Sumedang sudah melangkah lebih jauh dengan membangun ekosistem digital yang saling terhubung.

