SUMEDANG, 3 Juni 2025 – Di tengah berbagai persoalan mendesak yang dihadapi warga, Pemerintah Kabupaten Sumedang resmi membuka Sport Center Tadjimalela sebagai bagian dari program 100 hari kerja Bupati dan Wakil Bupati. Terletak di Lapangan Cigugur, proyek ini digadang-gadang sebagai ruang publik modern yang inklusif, aman, dan sehat. Namun, pertanyaannya: apakah pembangunan ini benar-benar menjawab kebutuhan utama masyarakat?
Peresmian yang berlangsung pada Selasa (3/6/2025) itu diwarnai acara meriah: senam massal, lomba mural, bazar UMKM, hingga operasi pasar. Sebuah kemeriahan yang kontras dengan kondisi di banyak sudut Sumedang—jalan rusak, infrastruktur pendidikan yang tertinggal, hingga persoalan air bersih yang belum merata.
Proyek Prestisius di Tengah Prioritas yang Terabaikan?
Tak sedikit suara sumbang muncul, mempertanyakan urgensi proyek ini. Membangun ruang olahraga penting, tapi bagaimana dengan desa-desa yang masih sulit diakses kendaraan? Bagaimana dengan ribuan warga yang hidup di bawah garis kemiskinan?
Alih-alih memperbaiki layanan dasar, pemerintah justru memprioritaskan proyek prestisius yang lebih bersifat simbolik. Di media sosial, sebagian warga menyebut proyek ini sebagai “pencitraan cepat saji” untuk mendongkrak popularitas, bukan solusi jangka panjang bagi masyarakat kecil.
Janji Fasilitas Lengkap, Tapi Kapan Terealisasi?
Dalam sambutannya, Bupati Dony Ahmad Munir menyebut bahwa Sport Center Tadjimalela akan terus dikembangkan, termasuk dengan jogging track, arena pencak silat, hingga stadion bertahap. Namun, publik bertanya-tanya: berapa banyak lagi anggaran yang akan dikucurkan, dan seberapa realistis janji itu di tengah keterbatasan fiskal daerah?
Apalagi, Sumedang masih harus bergelut dengan berbagai persoalan ekonomi—UMKM yang kesulitan akses modal, pengangguran muda, serta sistem layanan publik yang belum optimal.
Ruang Publik atau Sekadar Seremoni?
Tidak bisa dimungkiri, fasilitas publik yang sehat dan tertib sangat dibutuhkan. Namun, keberhasilan bukan diukur dari seberapa megah tempatnya, melainkan dari seberapa fungsional dan aksesibel bagi seluruh kalangan, termasuk masyarakat marginal.
Jika pengelolaannya kelak tidak terjaga, tidak tertib, atau hanya dinikmati segelintir orang, maka Sport Center Tadjimalela bisa saja berubah menjadi ruang kosong yang mahal biaya perawatannya namun minim manfaat sosial.

