Karena permasalahan sampah ini, lanjutnya, merupakan masalah bersama yang tentunya perlu dukungan semua pihak dalam penanganannya.
Ditempat yang sama Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Pertamanan DLHK Kabupaten Sumedang Ayuh Hidayat menuturkan, bahwa inovasi Wasades muncul, karena terinspirasi oleh cara-cara pengelolaan sampah tradisonal yang biasa dilakukan oleh orang tua dulu.
“Sebenarnya, pengelolaan sampah dalam program Wasades ini, tidak jauh berbeda dengan pengelolaan sampah di TPA, yaitu dengan sistem Sanitary Landfil. Dimana dengan cara membuang dan menumpuk sampah di lubang sampah, memadatkannya, dan kemudian menimbunnya dengan tanah,” kata Ayuh.
Nantinya, sambung Ayuh, sampah-sampah yang dipungut dari rumah-rumah penduduk itu, akan dikumpulkan di TPS. Dan setelah itu, sampah tersebut akan dipilah untuk memisahkan antara sampah organik dan non organik oleh pertugas pengelola sampah.
“Sampah organik yang memiliki nilai ekonomis, nantinya bisa diolah atau dijual oleh pihak pengelola. Sedangkan untuk sampah organik akan langsung dimasukan ke dalam lubang sampah kemudian memadatkannya, selanjutnya menimbunnya dengan tanah dan dipadatkan kembali, dimana estimasinya dalam waktu dua hari saja, sampah organik tadi akan menyatu dengan tanah. Sehingga tanah tersebut akan menjadi subur. Cara tersebut terus dilakukan didalam lubang sampah, hingga lubang sampah kembali sama dengan posisi tanah sebelum digali. Sehingga sampah yang nantinya akan diangkut atau dibuang ke TPA, hanya tinggal sisa sampah non organik yang tidak memiliki nilai ekonomis,” kata Ayuh menegaskan.
Sehingga melalui pengelolaan ini, akan mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA, karena yang dibuang ke TPA itu hanya tinggal residu atau sampah-sampah sisanya saja.
Adapun sampah organik yang telah dimasukan ke dalam lubang sampah tadi, akan hancur dan melebur dengan tanah.
“Pengelolaannya seperti ini, sebenarnya sudah biasa dilakukan masyarakat di pedesaan dulu, dimana hampir setiap rumah pasti selalu membuat lubang pembuangan sampah di belakang rumahnya. Namun, seiring perkembangan zaman metode ini, sudah jarang dilakukan masyarakat. Dan saat ini kita akan bangkitkan lagi,” ujarnya.
Ayuh juga menambahkan, dengan pola tersebut diyakini dapat meminimalisir masalah penumpukan sampah di lingkungan. Pasalnya, nanti ketika lubang sampah itu telah penuh dan terkubur oleh tanah, nantinya bisa digali lagi untuk pembuangan berikutnya.
“Untuk pelaksanaannya, Wasades ini nantinya akan dikelola oleh Karang Taruna di desa,” tandasnya.

