Dony: Ramadan Sekolah Kehidupan bagi ASN Sumedang

Tausiyah ASN

SUMEDANG – Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, menyampaikan tausiyah kepada Aparatur Sipil Negara (ASN) pada hari pertama Ramadan 1447 Hijriah di PPS Al Kamil, Pusat Pemerintahan Sumedang (PPS), Kamis, 19 Februari 2026. Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak ASN menjadikan Ramadan sebagai sekolah kehidupan yang membentuk karakter dan integritas dalam pengabdian.

Kegiatan itu menjadi ruang refleksi spiritual bagi para pegawai pemerintah daerah. Momentum Ramadan, menurut Dony, tidak boleh sekadar menjadi agenda rutin tahunan. Ia menekankan pentingnya memanfaatkan bulan suci sebagai sarana perubahan diri.

“Ramadhan harus menjadi momentum perubahan. Ini adalah sekolah kehidupan, tempat kita dilatih menjadi pribadi yang disiplin, peduli kepada sesama, serta semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT,” ujarnya.

Ramadan dan Penguatan Integritas

Dalam tausiyahnya, Dony menegaskan bahwa ibadah puasa tidak hanya berdimensi spiritual, tetapi juga sosial. Puasa melatih pengendalian diri, membangun empati, dan memperkuat rasa syukur. Nilai-nilai tersebut, kata dia, relevan dengan tugas ASN sebagai pelayan publik.

Ia mengingatkan bahwa kesempatan bertemu Ramadan merupakan anugerah. Tidak semua orang masih diberi waktu untuk menjalani ibadah di bulan suci.

“Banyak orang yang telah meninggal dunia berharap bisa kembali ke dunia meski hanya satu detik untuk meraih rahmat dan ampunan di bulan Ramadhan. Maka jangan sampai waktu satu bulan ini berlalu tanpa makna,” ungkapnya.

Pesan tersebut diarahkan agar ASN tidak menyia-nyiakan momentum pembinaan diri. Menurut Dony, kualitas pelayanan publik berangkat dari kualitas pribadi aparatur.

Tiga Langkah Menuju Ketakwaan

Bupati juga mengutip tujuan utama puasa sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183, yakni membentuk pribadi yang bertakwa. Untuk mencapai tujuan itu, ia memaparkan tiga langkah utama.

Pertama, meluruskan niat. Setiap ibadah harus dilakukan semata-mata karena Allah SWT agar terasa ringan dan penuh keikhlasan. Niat yang benar menjadi fondasi kualitas amal.

Kedua, menjalani Ramadan seolah menjadi kesempatan terakhir. Dengan kesadaran tersebut, setiap ibadah akan dijalankan secara sungguh-sungguh dan penuh perhatian.

Ketiga, memaknai setiap ibadah. Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, melainkan latihan kesabaran, kedisiplinan, dan kepedulian sosial. Salat tarawih menjadi dialog spiritual dengan Sang Pencipta. Tadarus Al-Qur’an menjadi sarana memahami petunjuk hidup.

Dony menilai pemaknaan mendalam terhadap ibadah akan berdampak langsung pada sikap dan perilaku sehari-hari, termasuk dalam menjalankan tugas pemerintahan.

ASN dan Teladan Moral

Sebagai aparatur negara, ASN diharapkan menjadi teladan moral di tengah masyarakat. Ramadan menjadi momentum untuk memperkuat etika kerja, disiplin, dan komitmen terhadap pelayanan publik.

Kegiatan tausiyah di PPS Al Kamil tersebut tidak hanya berisi ceramah, tetapi juga refleksi bersama tentang tanggung jawab sosial. Dony mengajak seluruh ASN membulatkan tekad agar Ramadan tahun ini lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Ia menegaskan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari perubahan diri. Jika setiap ASN mampu menjadikan Ramadan sebagai sekolah kehidupan, maka dampaknya akan terasa dalam peningkatan kualitas pelayanan dan kepercayaan masyarakat.

Melalui pesan tersebut, Dony Ahmad Munir kembali menekankan bahwa Ramadan bukan hanya ritual ibadah, melainkan proses pembentukan karakter. Bagi ASN Sumedang, bulan suci diharapkan menjadi momentum memperkuat integritas, meningkatkan empati, dan meneguhkan komitmen pengabdian kepada masyarakat.