SUMEDANG – Bulan suci tinggal menghitung hari, dan Pemerintah Kabupaten Sumedang sudah bergerak cepat buat memastikan suasana puasa tahun ini berjalan smooth. Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, secara resmi merilis Surat Edaran (SE) Nomor 16 Tahun 2026 yang berisi Seruan Ramadan 1447 H. Dokumen ini bukan cuma sekadar formalitas, tapi jadi panduan penting buat para kepala perangkat daerah sampai warga biasa supaya aktivitas selama bulan puasa tetap teratur dan penuh berkah.
Melalui Seruan Ramadan 1447 H ini, pemerintah daerah mengajak kita semua buat menjadikan momen setahun sekali ini sebagai ajang glow up spiritual. Fokus utamanya jelas: meningkatkan kualitas ibadah, memperkuat iman, dan yang nggak kalah penting, menjaga ketertiban umum. Dengan adanya aturan yang jelas, harapannya nggak ada lagi gesekan di lapangan, sehingga semua orang bisa menjalankan ibadah dengan hati yang tenang.
Glow Up Spiritual: Lebih dari Sekadar Menahan Lapar
Ramadan tahun 2026 ini diposisikan sebagai sarana buat membentuk karakter yang lebih religius dan peduli sesama. Pemkab Sumedang mengimbau warga buat gaspol dalam hal kebaikan, mulai dari rajin baca Al-Qur’an, dzikir, sampai rajin berinfaq dan sedekah. Kepedulian sosial juga ditekankan banget, terutama buat membantu anak yatim dan fakir miskin di sekitar kita. Masjid-masjid juga didorong buat makin hidup dengan kegiatan positif kayak salat berjamaah, pengajian, dan iktikaf.
Menariknya, buat para pegawai Muslim di lingkungan Pemda Sumedang, ada sentuhan digital dalam ibadah mereka. Surat edaran tersebut mengatur pelaksanaan tadarus Al-Qur’an secara tartil melalui aplikasi e-office pada menu “Berkhidmat”. Kegiatan ini bisa dilakukan sebelum mulai kerja atau setelah salat. Ini membuktikan kalau urusan kerjaan dan ibadah bisa jalan beriringan dengan memanfaatkan teknologi secara cerdas.
Aturan Main Bisnis Kuliner dan Hiburan
Buat para pelaku usaha, ada beberapa poin penting dalam Seruan Ramadan 1447 H yang harus diperhatikan supaya suasana tetap kondusif. Pengelola restoran, cafe, atau warung makan diminta buat nggak jualan secara terbuka pada siang hari. Ini penting buat menghormati mereka yang sedang berpuasa. Aktivitas jualan makanan baru boleh dimulai dari jam 16.00 WIB (selepas asar) sampai pukul 21.00 WIB. Dengan pengaturan jam ini, pedagang tetap bisa cari cuan saat jam buka puasa, tapi tetap sopan di jam krusial.
Sementara itu, buat tempat hiburan kayak karaoke dan sejenisnya, pemerintah meminta buat stop aktivitas dulu sampai ada ketentuan lebih lanjut. Kebijakan ini diambil supaya nggak ada distraksi yang mengganggu kekhusyukan umat Islam dalam beribadah. Jadi, fokus bulan ini bener-bener diarahkan ke hal-hal yang sifatnya reflektif dan produktif secara spiritual.
Security First: Siskamling dan Etika Bangunin Sahur
Aspek keamanan juga jadi perhatian serius Bupati Dony. Beliau mengingatkan warga buat makin waspada sama potensi kriminalitas. Solusinya? Aktifkan lagi Siskamling di lingkungan masing-masing. Kalau lingkungan aman, ibadah puasa pun jadi lebih nyaman. Selain itu, tradisi membangunkan sahur yang sudah jadi budaya kita tetap diperbolehkan, tapi ada aturannya supaya nggak jadi annoying.
Waktu buat bangunin sahur disarankan antara jam 02.30 WIB sampai 03.30 WIB. Caranya juga harus santun, nggak berlebihan, dan sangat disarankan pake alat musik tradisional biar lebih estetik dan nggak mengganggu ketenangan warga yang mungkin nggak puasa atau lagi sakit. Koordinasi dengan RT/RW dan tokoh masyarakat setempat itu wajib, supaya tradisi ini tetap vibes-nya positif dan nggak memicu konflik.
Say No to Perang Sarung dan Petasan!
Dalam Seruan Ramadan 1447 H, Pemkab Sumedang secara tegas melarang beberapa kegiatan yang dinilai kontraproduktif dan berbahaya. Beberapa hal yang dilarang keras antara lain:
- Sahur on The Road: Seringkali malah jadi ajang kerumunan yang nggak jelas tujuannya.
- Perang Sarung: Kegiatan ini sangat berbahaya dan rawan memicu tawuran antar kelompok remaja.
- Petasan dan Kembang Api: Selain mengganggu kekhusyukan, ini juga berbahaya bagi keselamatan diri dan lingkungan.
Larangan ini tujuannya satu: mencegah gangguan keamanan dan ketertiban. Pemerintah pengen Ramadan di Sumedang itu adem, aman, dan minim insiden. Para camat di seluruh wilayah Sumedang juga sudah diminta buat pasang mata dan telinga, melakukan koordinasi serta pemantauan ketat supaya semua imbauan dalam surat edaran ini berjalan sesuai rencana di lapangan.
Sinergi dan Toleransi adalah Kunci
Di akhir dokumen yang ditetapkan pada 16 Februari 2026 ini, Bupati menekankan pentingnya toleransi. Masyarakat nonmuslim diharapkan bisa menghormati warga Muslim yang berpuasa, begitu juga sebaliknya. Kerukunan antarumat beragama di Sumedang harus tetap dijaga biar makin harmonis.
Dengan adanya Seruan Ramadan 1447 H lewat Surat Edaran Nomor 16 Tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Sumedang bener-bener komitmen buat menjaga keseimbangan antara ibadah, ketertiban, dan harmoni sosial. Mari kita jadikan Ramadan 2026 sebagai momentum buat jadi versi terbaik dari diri kita sendiri, sambil tetap menjaga Sumedang tetap aman dan tertib. Selamat menjalankan ibadah puasa buat warga Sumedang, semoga makin berkah!

