Sumedang, 16 September 2025 – Festival Pesona Jatigede 2025 dipastikan tidak menggunakan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Sumedang. Seluruh pembiayaan kegiatan akan bersumber dari sponsor dan sebagian ditopang oleh APBD Provinsi Jawa Barat.
Kepastian ini disampaikan Wakil Bupati Sumedang, M. Fajar Aldila, dalam Rapat Koordinasi Forkopimda Persiapan Festival Pesona Jatigede 2025 yang berlangsung di Ruang Rapat Bupati Sumedang, Selasa (16/9/2025). “Festival Pesona Jatigede 2025 tidak memakai APBD Kabupaten Sumedang. Kami informasikan, kegiatan ini memakai dana sponsor dan beberapa kegiatan yang memakai APBD Provinsi Jawa Barat yang dibantu dikawal dan diawasi Kejaksaan Negeri Sumedang,” ujarnya.
Festival untuk Citra dan Kemajuan Sumedang
Fajar menekankan, seluruh pihak yang terlibat harus memiliki pemahaman yang sama bahwa festival ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan ajang strategis untuk memajukan Sumedang. Ia mencontohkan, kejuaraan dunia paralayang yang akan diikuti 120 pilot dari 17 negara harus dikelola dengan baik, termasuk dalam aspek keamanan dan kenyamanan.
“Untuk kegiatan paralayang, ada 120 pilot dari 17 negara. Pastikan Warga Negara Asing ini bisa aman, nyaman, dan tenang di Kabupaten Sumedang. Karena ini menyangkut citra Kabupaten Sumedang sebagai tuan rumah,” tutur Fajar.
Kehadiran atlet internasional di Jatigede diyakini akan mendongkrak reputasi Sumedang di kancah global. Oleh karena itu, standar penyelenggaraan harus diperhatikan dengan serius, baik dari segi fasilitas, layanan, maupun koordinasi keamanan lintas sektor.
Dorongan Promosi Global dan Kreatif
Selain aspek penyelenggaraan, Fajar menegaskan pentingnya publikasi yang masif untuk mendukung kesuksesan acara. “Lakukan promosi menyeluruh dan global menggunakan media sosial, influencer, media cetak, elektronik, dan digitalisasi konten secara profesional. Gunakan strategi yang kreatif, fokus pada minat audiens, dan libatkan UMKM lokal melalui Street Food Festival untuk menggerakkan ekonomi masyarakat,” imbuhnya.
Langkah ini dinilai penting agar Festival Pesona Jatigede tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga dapat menarik perhatian nasional dan internasional. Pemanfaatan media digital dan keterlibatan influencer menjadi strategi utama agar gaung acara lebih luas dan efektif menjangkau target audiens.
Sinergi Ekonomi dan UMKM Lokal
Selain menghadirkan ajang olahraga kelas dunia, festival ini juga diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat. Melalui Street Food Festival, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal akan diberi ruang untuk berpartisipasi, mempromosikan produk, sekaligus meningkatkan pendapatan.
Dengan strategi tersebut, festival tidak hanya menghadirkan hiburan dan sport tourism, tetapi juga menggerakkan sektor riil di Sumedang. Hal ini sejalan dengan misi pemerintah daerah untuk menjadikan pariwisata sebagai sektor unggulan yang mampu mendukung kesejahteraan masyarakat.
Ajang Sport Tourism Bergengsi
Kejuaraan dunia paralayang di Jatigede sudah menjadi agenda tahunan bergengsi. Tahun 2025 menandai kali keempat Sumedang dipercaya sebagai tuan rumah. Kepercayaan internasional ini sekaligus menunjukkan kesiapan daerah dalam mengelola event kelas dunia.
Selain paralayang, Festival Pesona Jatigede 2025 akan diramaikan dengan berbagai kegiatan pendukung. Acara dijadwalkan berlangsung mulai Jumat, 19 September 2025, dan terbuka untuk masyarakat luas. Kehadiran pengunjung diharapkan dapat semakin memeriahkan sekaligus memperkuat branding Jatigede sebagai destinasi wisata sport tourism di Jawa Barat.
Dukungan Lintas Pihak
Dengan pola pendanaan yang melibatkan sponsor, APBD Jabar, serta pengawasan ketat dari Kejaksaan Negeri Sumedang, penyelenggaraan festival ini diharapkan lebih transparan dan akuntabel. Sinergi ini diharapkan mampu menjadikan Festival Pesona Jatigede 2025 sebagai momentum besar bagi Sumedang untuk semakin dikenal, baik di level nasional maupun internasional.
Melalui event ini, Sumedang tidak hanya ingin menunjukkan keindahan alam Waduk Jatigede, tetapi juga kesiapan sebagai daerah yang ramah wisatawan, terbuka terhadap dunia, dan berkomitmen membangun ekonomi masyarakat berbasis pariwisata.

