Wisata  

Sekolah Sumedang Didorong Belajar di Tahura

pembelajaran kontekstual Sumedang

SUMEDANG – Pemerintah Kabupaten Sumedang mulai mengarahkan satuan pendidikan untuk keluar dari pola belajar yang sepenuhnya bertumpu pada ruang kelas. Melalui kebijakan terbaru, sekolah didorong memanfaatkan kekayaan alam dan sejarah daerah sebagai bagian dari proses pembelajaran yang lebih kontekstual dan bermakna.

Dorongan tersebut dituangkan dalam Surat Edaran Bupati Sumedang Nomor 6 Tahun 2026 yang mengimbau pemanfaatan Taman Hutan Raya (Tahura) Gunung Palasari–Gunung Kunci sebagai sarana pembelajaran berbasis lingkungan. Dalam kebijakan yang sama, Museum Prabu Geusan Ulun juga diposisikan sebagai ruang edukasi penting untuk memperkuat pemahaman sejarah dan budaya lokal.

Kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari arahan Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Surat Edaran Gubernur Jawa Barat tentang sembilan langkah pembangunan pendidikan menuju terwujudnya Gapura Panca Waluya. Di tingkat implementasi, langkah tersebut sekaligus mendukung penguatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dalam kerangka Kurikulum Merdeka.

Bupati Sumedang H. Dony Ahmad Munir menegaskan bahwa proses belajar tidak harus selalu berlangsung di dalam kelas dengan pendekatan teoritis. Menurutnya, potensi daerah baik alam maupun budaya menyediakan ruang belajar nyata yang mampu membangun pemahaman sekaligus karakter peserta didik.

Ia menyebut Tahura Gunung Palasari–Gunung Kunci dapat berfungsi sebagai laboratorium alam, sementara Museum Prabu Geusan Ulun menawarkan pembelajaran sejarah yang berakar pada identitas Sumedang. Keduanya, kata Dony, menjadi sarana untuk menanamkan kepedulian lingkungan sekaligus memperkuat jati diri generasi muda.

Pembelajaran berbasis lingkungan dan kearifan lokal, lanjutnya, memberikan pengalaman yang lebih mendalam dibandingkan metode konvensional. Anak-anak tidak hanya menyerap pengetahuan, tetapi juga memahami konteks di sekitarnya mulai dari alam tempat mereka hidup hingga sejarah yang membentuk masyarakatnya. Dari proses itulah diharapkan tumbuh karakter Cageur, Bageur, Bener, Pinter, tur Singer.

Dalam surat edaran tersebut, sekolah diarahkan memanfaatkan kawasan Tahura untuk kegiatan belajar luar kelas yang berkaitan dengan konservasi lingkungan, pengenalan keanekaragaman hayati, pengelolaan sampah, serta penumbuhan sikap cinta alam. Pendekatan ini dirancang agar peserta didik memiliki kesadaran ekologis sejak dini.

Sementara itu, Museum Prabu Geusan Ulun diproyeksikan sebagai pusat pembelajaran sejarah dan budaya. Melalui museum, siswa diajak memahami nilai-nilai perjuangan leluhur Sumedang dan perjalanan panjang daerahnya, bukan sekadar menghafal peristiwa, tetapi menafsirkan maknanya dalam kehidupan masa kini.

Bupati Dony menekankan bahwa seluruh kegiatan tersebut bukanlah wisata atau study tour. Aktivitas belajar di luar kelas harus menjadi bagian dari proses pendidikan yang terintegrasi dengan kurikulum, dirancang secara sederhana, serta tidak membebani peserta didik maupun orang tua.

Ia juga meminta kepala satuan pendidikan menyesuaikan pelaksanaan kegiatan dengan kondisi masing-masing sekolah. Koordinasi dengan perangkat daerah terkait dianggap penting agar seluruh proses berjalan sesuai ketentuan dan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.

Melalui kebijakan ini, Pemerintah Kabupaten Sumedang berharap pembelajaran kontekstual dapat melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter kuat, memiliki kepedulian terhadap lingkungan, serta tumbuh dengan kebanggaan terhadap sejarah dan budaya daerahnya.