SUMEDANG – Kejuaraan Basket 3 on 3 Sumedang menutup rangkaian pertandingan tingkat pelajar di GOR H. Dadan Hendarsyah, Universitas Sebelas April (Unsap), Minggu, 15 Februari 2026. Ajang bertajuk Perbasi Cup 2026 ini mempertemukan pelajar SD, SMP, dan SMA se-Kabupaten Sumedang selama dua hari, 14–15 Februari 2026.
Wakil Bupati Sumedang, M Fajar Aldila, menutup langsung turnamen tersebut. Kehadirannya menjadi penanda dukungan pemerintah daerah terhadap pembinaan olahraga usia dini, khususnya cabang bola basket nomor 3×3 yang kini berkembang pesat di tingkat nasional maupun daerah.
Apresiasi untuk Juara dan Evaluasi bagi yang Tumbang
Dalam sambutannya, Fajar menyampaikan apresiasi kepada tim yang menembus semifinal hingga partai puncak. Ia juga memberi semangat kepada peserta yang belum berhasil meraih gelar.
“Jangan sedih. Jadikan itu pengalaman, yang namanya pertandingan pasti ada yang menang dan kalah. Selamat untuk yang menang dan juara. Untuk yang kalah, jadikan bahan evaluasi agar semakin kuat ke depannya,”kata Wabup Fajar.
Pesan tersebut disampaikan di hadapan ratusan peserta dan pendamping. Turnamen ini tidak hanya memperebutkan gelar juara, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi pelajar untuk membangun mental kompetitif dan sportivitas.
Data panitia mencatat, kategori SD diikuti 22 peserta. Pada tingkat SMP, jumlah peserta mencapai 132 orang. Sementara kategori SMA diikuti 112 peserta. Total partisipasi yang besar menunjukkan antusiasme pelajar terhadap cabang 3 on 3, format permainan yang lebih cepat dan dinamis dibandingkan pertandingan lima lawan lima.
Pesan Moral untuk Generasi Muda
Di sela penutupan Kejuaraan Basket 3 on 3 Sumedang, Fajar juga menekankan pentingnya menjaga masa depan. Ia mengingatkan peserta untuk menjauhi perilaku yang merugikan diri sendiri.
“Jauhi narkoba, judi online dan jangan pacar-pacaran. Fokus membahagikan orang tua dulu. Bikin mereka bangga jangan sampai masa depan terbuang cuma-cuma. Fokus pada tujuan dan cita-cita,”pesanya.
Ia menilai olahraga dapat menjadi sarana membentuk karakter disiplin dan tanggung jawab. Melalui kompetisi seperti Perbasi Cup 2026, pelajar diharapkan memiliki kegiatan positif yang terarah.
Fajar juga meminta dukungan doa agar pembangunan daerah berjalan optimal.
“Tetap semangat tunjukan terbaik, tunjukan tekad, kalah menang biasa yang penting pengalamannya,” kata Fajar.
Ia menegaskan pemerintah daerah berupaya meningkatkan kapasitas fiskal untuk mendukung sektor prioritas, termasuk olahraga dan pembinaan generasi muda.
Strategi Pembinaan Atlet 3×3
Ketua Pelaksana Perbasi Cup 2026, Hilda Saptanugraha, menjelaskan turnamen ini dirancang sebagai bagian dari strategi pembinaan atlet Kabupaten Sumedang. Fokus diarahkan pada nomor 3 on 3 yang dinilai memiliki prospek kompetitif di ajang tingkat provinsi.
“Kami membentuk binaan untuk atlet Kabupaten Sumedang terutama dinomor 3 on 3. Kebetulan lolos di babak kualifikasi Porda dan ingin ada penerusnya dari adik-adik pelajar,” katanya.
Menurut Hilda, keberhasilan meloloskan tim ke babak kualifikasi Pekan Olahraga Daerah menjadi momentum untuk menyiapkan regenerasi. Pelajar yang tampil dalam Kejuaraan Basket 3 on 3 Sumedang dipantau untuk masuk dalam program pembinaan lanjutan.
Model kompetisi 3×3 dipilih karena memberi kesempatan lebih luas bagi atlet muda menunjukkan kemampuan individu dan kerja sama tim dalam tempo cepat. Format ini juga lebih mudah digelar di berbagai fasilitas olahraga sekolah maupun komunitas.
Partisipasi dan Simbol Dukungan
Pada kesempatan itu, Wakil Bupati turut mencoba bermain dalam pertandingan 3 on 3 bersama peserta. Aksi tersebut menjadi simbol dukungan moral sekaligus bentuk kedekatan pemerintah daerah dengan komunitas olahraga.
Turnamen ini memperlihatkan potensi besar pembinaan basket usia sekolah di Sumedang. Dengan jumlah peserta yang signifikan dari tiga jenjang pendidikan, Kejuaraan Basket 3 on 3 Sumedang berpotensi menjadi agenda rutin tahunan.
Jika pembinaan berjalan konsisten, ajang seperti Perbasi Cup 2026 dapat menjadi jalur awal menuju kompetisi tingkat provinsi hingga nasional. Regenerasi atlet membutuhkan kesinambungan kompetisi, pelatih berkualitas, serta dukungan kebijakan.
Kejuaraan Basket 3 on 3 Sumedang tahun ini menegaskan satu hal: pembinaan olahraga tidak cukup berhenti pada seremoni. Ia harus berlanjut pada sistem yang terstruktur dan berorientasi jangka panjang. Dengan fondasi itu, Sumedang berpeluang melahirkan atlet basket 3×3 yang mampu bersaing di level lebih tinggi.

