“Eh, Bapak… kita tadi ketemu di pinggir jalan itu Pak”. Aku terkejut, sontak mengatakan itu sambil tersenyum.
“Ujang, yang tadi di jalan. Itu kenapa? Kempes ban motornya?”. Kata Bapak sambil tersenyum, terkejut.
“Iya Pak, ban motor teman kempes. Tadi ada Dina menawarkan bantuannya, lagi bawa kompaan ban.” Jawabku sopan.
“Tadi, Bapak kira kalian orang jahat. Hati-hati di sini kadang masih ada begal.” Kata Bapak.
“Begal, ya Pak. Memang jalan bobrok begitu, sering jadi sarang mereka ya Pak.” Aku menjawab ragu, dan terkesan malu.
“Iya. Jalan itu sudah lama belum diperbaiki. Itu jalan kabupaten, ya kewajiban memperbaikinya di kabupaten.” Tegas Bapak.
Dari rumah keluar Dina, dengan bawa alat kompa Ban.
“Hayu, kita jalan.” Kata Dina ditengah perbincanganku bersama Bapaknya.
“Sok, hari sudah sore. Lekas perbaiki. Ngomong-ngomong kalian mau kemana?” Tanya Bapak.
“Saya, sama teman-teman. Rencananya cari hiburan Pak. Setelah kuliah empat tahun di Sumedang ini, rasanya ada yang kurang kalo ada yang belum dikunjungi… Tapi melihat waktu yang sudah sore, rasanya kami harus pulang kembali ke Sumedang kota Pak.” Aku coba memperjelas.
“Kalian kembali lagi ke Sumedang ya? Tanya Dina mencoba masuk perbincangan.
“Iya Din, besok hari Senin masih banyak tugas yang mesti dikerjakan.” Jawabku dengan rasa sesal.
“Iya. Kalo begitu sok Jang, gera bereskeun.” Kata Bapak Dina.

