Cinta Terjebak Jalan Bobrok

Cinta Terjebak Jalan Bobrok

Berangkatlah aku dan Dina kerumahnya. Perbincangan dilanjutkan di motor yang berjalan tak karuan karena bobroknya jalan. Sambil jalan perbincangan berlangsung semakin hangat. Suara mesin motor, gejrak-gejruknya kerikil yang tergilas ban ikut mewarnai perjalanan.

“Din, kamu asli orang sini?” Aku mencoba mengawali perbicangan, malu-malu.

“Iya… aku asli tinggal di daerah ini. Babakan asem. Aku kuliah juga di Bandung, sesekali aku pulang untuk menyempatkan waktu bersama orang tuaku.” Jawab Dina.

“Biasanya kalo pulang kampung, seminggu sekali?” tanyaku kembali.

“Iya… aku menyempatkan untuk pulang seminggu sekali. Kalau dirasa tak ada kegiatan kampus yang mencegahku untuk pulang. Aku juga pulang ke rumah untuk membantu keluarga.” Jawab Dina terdengar ramah.

“Berarti, seminggu sekali kamu melewati jalan bobrok ini. Eh maaf bukannya menjelekkan daerah asalmu ya…”

“Iya tak masalah. Memang jalanan ini kayak gini. Sudah lama, aku hanya udah terbiasa…”

“Sudah lama jalan ini kayak gini Din, dari pemerintah daerah gak ada gitu tawaran untuk memperbaiki jalan ini?”

“Kalo sekedar wacana memang ada, katanya jalan ini belum diperbaiki karena ada proyek tol. Khawatirnya akan kembali merusak jalanan”

“Proyek tol Cisumdawu itu ya, emang masih lama kan?” Tanyaku mencoba menggali pendapatnya.

“Gk tau, masih lama kayaknya.” Jawab Dina.

Perbincangan berlangsung, gredekan motorpun hampir tak terasa. Kami sudah mulai memasuki rumah-rumah yang senggang. Anehnya jalan ini terasa berbeda, tak terlalu bobroklah. Hingga sampailah aku ke rumah Dina. Aku tunggu sambil menaiki motor. Ternyata sahutan terdengar di dalam rumah menyuruhku untuk masuk ke dalam. Terdengar suara bapak-bapak menyuruhku untuk duduk di kursi depan. Disilahkan aku duduk, terlihat keluar bapak-bapak.  Yang ternyata seorang bapak-bapak yang tadi sempat aku mintai bantuan. Perbincanganpun dimulai dengan bahasa Sunda.