Di tengah perdebatan kusir itu. Terlihat seorang perempuan yang membawa motor, sendirian. Dari kejauhan aku berpikir, perempuan sendiri tak akan bisa bantu apapun. Bersama teman-teman kita tetap melanjutkan perbincangan. Tiba-tiba perempuan itu menepi. Dan melancarkan perhatiannya. Namanya Dina.
“Kalian kenapa?” Tanya Dina.
Kami respons dengan sopan sambil berdiri.
“Ban motor temanku kempes.” Jawab Dimas.
“Kami di sini sekitar satu jam menunggu bantuan orang lewat.” Sahut Yusuf.
“Kalian bukan orang sini asli ya…?” Dina mencoba menggali informasi dari kami.
“Kami berasal dari Bandung, kesini cari hiburan. Katanya daerah ini memiliki pemandangan yang indah.” Obi mencoba masuk perbincangan.
“Kami mahasiswa yang kuliah di Sumedang kota. Dari penuhnya kegiatan yang membuat kami penat. Kami cari hiburan ke daerah ini. Ya… untuk menghilangkan penat saja.” Aku coba tegaskan.
Melihat mukanya Dina, sepertinya dia memiliki perhatian untuk bantu kami.
“Di rumahku ada alat kompa ban. Itu mungkin bisa membantu…” Tawar Dina, sambil malu-malu.
“Ya… Itu yang kami butuhkan, terima kasih bantuannya Dina.” Sahut Obi.
“Aku bisa mengantarmu ke rumah, bantu bawa alatnya.” Tawar Dimas.
“Rumah kamu jauh gak dari sini?” Tanya Yusuf.
“Deket cuman jalannya kayak gini. Mungkin 20 menitan dari sini”. Jawab Dina.
“Iya anter Dim…” Obi menguatkan.
“Boleh aku antar ke rumahmu?” dengan senyum, kembali aku menguatkan tawaranku.
“Boleh, supaya tidak lama. Hayu berangkat.” Jawab Dina.
“Motormu simpen di sini aja Dim.” Kata Yusuf dengan nada menyuruhku untuk lekas pergi.
“Hayu kita ambil kompa itu ke rumahmu Din.” Tegas ku untuk mempersingkat waktu.

