Cinta Terjebak Jalan Bobrok

Cinta Terjebak Jalan Bobrok

Menepi dan menunggu meski tak kunjung ada yang lewat. Kami membuka tas dan mengambil minuman yang kami bawa untuk bekal perjalanan. Minuman dingin setidaknya menjadi penghilang dahaga di tengah terik matahari yang mulai naik. Sesekali melihat jam pada ponselku, terlihat waktu menunjukkan pukul 10:30. Hutan hijau yang menghiasi kanan jalan menyegarkan nafas. Melihat kejauhan terhampar di kiri jalan ilalang tinggi menghiasi sepanjang jalan.

“Gimana, tak kunjung ada yang lewat seorangpun dari kiri atau kanan.” Aku mencoba memulai obrolan setelah hening tertimpa masalah.

“Bisa saja kita lanjutkan perjalanan, bengkel terakhir kulihat tadi di alun-alun. Suf, ente dorong ya…” Sahut, Obi.

“Dorong? Jalan bobrok gini, bisa nyampe maghrib, Cuk.” Sangkal Yusuf.

Terlihat dari kejauhan seorang bapak-bapak membawa motor sendirian. Aku mencoba untuk memberikan tanda perlu bantuan padanya.

“Pak… Ban motor kami kempes, mohon batuannya.” Aku mencoba menarik perhatian bapak itu.

Bapak-bapak itu menepi, meski lanjut perjalanan kembali. Pikirku terlihat dari raut mukanya yang ketakutan karena melihat kita sebagai orang asing. Dalam benak sangkaanya mungkin kita dipadang sebagai begal. Mungkin karena rambut gondrongnya Obi, atau muka sangarnya Yusuf. Tanpa tanya, bapak itu melanjutkan kembali perjalanan.

Setelah Bapak itu cukup jauh. “Njir Bapak-bapak itu takut karena lu gondrong sih Dik.” Aku yang mencoba mengungkapkan kekesalanku.

“Apaan njir rambut disalahkan. Muka lu Suf itu sangar amat sih.” Pembelaan Obi.

“Muka ganteng kalem gini…” Sahut Yusuf