Cinta Terjebak Jalan Bobrok

Cinta Terjebak Jalan Bobrok

Jalanan yang bobrok ini mewarnai perjalanan kami. Selain itu, kiri dan kanan jalan menyuguhkan pemandangan hijau dari hutan yang lebat. Tak ada perumahan. Dengan motor yang bergoyang kami tetap meneruskan perjalanan. Sampailah pada sebuah jalan yang bobrok berlebih. Sempat kami tersendat, berhenti dan berpikir untuk kembali. Melihat, ada seorang bapak-bapak dengan motor bebeknya yang dimodifikasi melewati jalan. Dalam pikiranku, jika bapak-bapak itu mampu mengapa tidak. Dibantu dengan motivasi padang eksotis yang akan disuguhkan. Aku, dan kedua temanku: Yusuf dan Obi. Sampai pada jalan ekstrim.

“Jalan bobrok ini mungkin tak akan panjang.” Aku menguatkan pada kedua temanku.

“Dim, bapak itu bisa melewati jalan ini. Kita mundur kembali percuma sudah sampai di jalan ini.” Sahut Yusuf.

“Kita nanti pun akan melepas penat dengan indahnya pemandangan.” Kata Obi yang penasaran.

Kami melanjutkan perjalanan dengan jeli melihat kerikil-kerikil jalan yang akan dilimbas. Sambil melaju, kaki menapaki jalan untuk menahan ke-olengan motor yang bergoncang. Setelah 10 sampai 20 menit, mengarungi jalan bobrok tak kunjung selesai ini. Ban motor yang dikendarai Obi mengalami kempes. Di tengah hutan tak ada perumahan sama sekali. Dalam pikiranku lebih baik kita lanjutkan perjalanan ini. Sangat jarang sekali orang berlalu lalang, tak ada yang bisa kami minta bantuan.

“Suf, Ban motor itu kempes.” Aku mencoba mengingatkan mereka.

“Dik, menepi ban motor kayaknya kempes. Kata Dimas.” Yusuf, sambil mencoba menengok ke ban memperingatkan Obi.

“Oh iya, pantas motor ini gak stabil. Dim menepi…” Sahut Obi.

Setelah menepi pinggir jalan. “Bisa dilanjut gak, sampai perumahan terdekat?” Pikirku karena kesunyian ini.

“Ini gak bisa Dim. Kalo kita lanjut motorku rusak. Belum terlihat juga ada perumahan di depan jalan.” Jawab Obi

“Pelek motor bakal penyon Dim. Jalan bobrok gini, jangankan ban kempes. Kondisi normalpun bisa buat motor bobrok”. Yusuf menguatkan untuk berhenti sejenak menunggu bantuan.

“Okelah kita coba tunggu, mungkin sesekali akan ada orang yang bisa bantu kita”. Aku mempertimbangkan segala kerusakan yang bisa timbul di motor temaku.