Sumedang – Ribuan masyarakat memadati Alun-alun Sumedang pada Jumat malam (15/8/2025) untuk menyaksikan pawai lampion yang menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia. Pawai tahunan ini kembali menghadirkan nuansa semarak dengan kreasi lampion berwarna-warni yang diarak para pelajar dari 42 sekolah di kawasan Sumedang kota.
Bupati Sumedang, Dr. H. Dony Ahmad Munir, yang hadir dan membuka acara, menyampaikan pesan kebangsaan di hadapan warga. Ia menekankan bahwa lampion bukan sekadar hiasan, melainkan simbol yang harus dijaga sebagai tanda cahaya kemerdekaan.
“Malam ini ada lampion, merupakan simbol bahwa kemerdekaan dijaga dan dirawat. Akan terus menerangi Indonesia dan Sumedang. Jangan sampai simbol lampion ini redup bahkan padam sinarnya. Mari jaga dan rawat bersama. Kemerdekaan ini pintu gerbang kesejahteraan,” ujar Bupati Dony di hadapan peserta pawai.
Ajakan Isi Kemerdekaan dengan Kontribusi Positif
Dalam kesempatan itu, Dony mengajak masyarakat Sumedang untuk mengisi kemerdekaan dengan kerja nyata. Menurutnya, wujud syukur atas kemerdekaan tidak cukup hanya dengan perayaan, tetapi juga melalui kontribusi positif sebagai warga negara.
“Mari isi kemerdekaan dengan sebaik-baiknya. Menjadi warga yang baik, warga yang berkontribusi positif dan bisa terus berkarya, berbuat yang terbaik memajukan Kabupaten Sumedang,” katanya.
Ia menegaskan bahwa tekad dan kebersamaan adalah kunci dalam membawa Sumedang menuju kesejahteraan. Seruan itu disampaikan di tengah suasana penuh semangat, ketika ribuan lampion menyinari Alun-alun, menciptakan atmosfer yang mengingatkan pada nilai persatuan.
Lampion dan Generasi Penerus Bangsa
Bupati juga menyoroti keterlibatan pelajar dalam pawai lampion kali ini. Berbagai kreasi lampion dengan bentuk dan warna berbeda ditampilkan oleh anak-anak sekolah, yang menjadi simbol generasi penerus bangsa.
“Anak-anak ini harapan di masa yang akan datang. Biarkan mereka tumbuh berkembang menjadi generasi yang cerdas. Generasi yang pintar untuk melanjutkan perjuangan, pembangunan estafet kepemimpinan di Kabupaten Sumedang,” ujar Dony.
Menurutnya, melalui kegiatan semacam ini, nilai kebersamaan, kreativitas, dan cinta tanah air dapat ditanamkan sejak dini. Pawai lampion bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana edukasi kebangsaan bagi anak-anak.
Tradisi yang Terus Dilestarikan
Pawai lampion di Sumedang telah menjadi tradisi tahunan dalam rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan RI. Masyarakat secara rutin menggelar arak-arakan lampion setiap bulan Agustus sebagai simbol cahaya, persatuan, dan doa bersama untuk kemajuan bangsa.
Tahun ini, sebanyak 42 sekolah berpartisipasi, membawa lampion buatan sendiri yang memadukan kreativitas seni dan nilai kebangsaan. Masyarakat tumpah ruah di jalanan sekitar Alun-alun untuk menyaksikan parade cahaya tersebut.
Tradisi ini mendapat apresiasi luas karena mampu menyatukan warga dari berbagai kalangan. Pawai lampion dipandang sebagai wujud kebersamaan dalam merayakan kemerdekaan sekaligus memperkuat identitas budaya lokal Sumedang.
Lampion sebagai Simbol Cahaya Kemerdekaan
Bupati Dony menegaskan, cahaya lampion harus dipahami sebagai lambang semangat kemerdekaan yang tidak boleh padam. Kemerdekaan, menurutnya, adalah gerbang menuju kesejahteraan yang hanya bisa terwujud jika masyarakat menjaga persatuan dan berkontribusi aktif.
Pesan tersebut menjadi penutup acara pembukaan sebelum peserta pawai melanjutkan perjalanan dengan membawa lampion berwarna-warni menyusuri jalan utama Sumedang kota. Gemerlap lampion yang berpadu dengan antusiasme masyarakat menciptakan suasana hangat sekaligus khidmat.
Makna di Balik Pawai Lampion
Pawai lampion bukan hanya sekadar pesta rakyat, tetapi juga momentum refleksi kebangsaan. Di tengah arus globalisasi, kegiatan tradisional semacam ini menjadi pengingat bahwa nilai persatuan, semangat juang, dan rasa syukur harus terus diwariskan.
Bagi Kabupaten Sumedang, lampion menjadi simbol cahaya yang menyatukan generasi tua dan muda dalam semangat merawat kemerdekaan. Pesan yang disampaikan Bupati Dony pada malam itu menegaskan pentingnya menjaga tradisi sekaligus mengisinya dengan makna yang relevan untuk masa depan.

