Pelayanan Kesehatan Menembus Keterbatasan Akses di Wanajaya

SUMEDANG – Keterbatasan akses tidak menghalangi pelayanan kesehatan bagi warga Kampung Pasir Huni, Desa Wanajaya, Kecamatan Surian, Kabupaten Sumedang. Sinergi lintas unsur kembali terlihat ketika bidan desa, aparat kewilayahan, kader kesehatan, serta mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) turun langsung melakukan pemeriksaan kesehatan sekaligus membantu evakuasi warga yang membutuhkan penanganan medis lanjutan.

Kegiatan tersebut melibatkan Bidan Desa Wanajaya bersama Babinsa Desa Wanajaya Koramil 1008/Buahdua Sertu Deni Romdoni, para kader kesehatan, dan mahasiswa KKN.

Pemeriksaan dilakukan secara door to door untuk memastikan kondisi kesehatan warga, terutama kelompok rentan seperti lansia dan warga dengan keluhan penyakit tertentu.
Selain pemeriksaan kesehatan, tim juga membantu proses evakuasi warga yang sakit menuju fasilitas layanan kesehatan.

Tantangan utama kegiatan ini adalah keterbatasan infrastruktur. Jembatan gantung yang menjadi akses utama masih dalam tahap pengerjaan, sehingga mobilitas menuju kampung tersebut tidak dapat dilalui kendaraan darat.

Dalam kondisi tersebut, Bidan Desa, kader kesehatan, dan mahasiswa KKN harus menyeberangi sungai menggunakan perahu untuk mencapai lokasi warga. Sementara itu, Babinsa bersama masyarakat setempat bergotong royong membantu penyeberangan pasien melewati sungai menuju titik penjemputan ambulans. Dari titik tersebut, pasien kemudian dibawa ke puskesmas pembantu atau puskesmas terdekat untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

Kegiatan ini mencerminkan kepedulian bersama terhadap hak dasar masyarakat untuk memperoleh layanan kesehatan, meskipun berada di wilayah dengan akses terbatas. Kolaborasi antara tenaga kesehatan, aparat TNI, relawan mahasiswa, dan warga menunjukkan bahwa pelayanan publik tetap dapat berjalan melalui semangat gotong royong.

Bagi warga Kampung Pasir Huni, kegiatan tersebut bukan sekadar pelayanan rutin, tetapi menjadi penopang penting di tengah keterbatasan sarana. Akses sungai yang harus dilalui setiap kali membutuhkan layanan kesehatan berisiko memperlambat penanganan, terutama dalam kondisi darurat.
Situasi tersebut sekaligus menegaskan urgensi percepatan pembangunan Jembatan Perintis Garuda Tahap II.

Jembatan ini diproyeksikan menjadi akses utama yang menghubungkan wilayah permukiman dengan pusat layanan publik. Tanpa jembatan yang memadai, mobilitas warga untuk layanan kesehatan, pendidikan, hingga aktivitas ekonomi menjadi sangat terbatas.

Komandan Kodim 0610/Sumedang, Letkol Arh Kusuma Ardianto, S.I.P., M.Han., menyampaikan apresiasi atas kerja sama seluruh unsur di lapangan. Ia menilai kegiatan tersebut sebagai wujud nyata kepedulian dan kemanunggalan aparat dengan masyarakat.

“Kami mengapresiasi langkah cepat Bidan Desa, Babinsa, para kader, mahasiswa KKN, dan masyarakat yang tetap mengutamakan keselamatan serta kesehatan warga meskipun sarana penyeberangan masih terbatas. Ini adalah wujud nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat dan semangat gotong royong di wilayah.”

Menurut Kusuma, kondisi geografis dan keterbatasan infrastruktur tidak boleh menjadi penghalang bagi pelayanan dasar. Ia menegaskan bahwa upaya pelayanan kesehatan di wilayah terpencil membutuhkan dukungan semua pihak, baik dari unsur pemerintah, aparat, maupun masyarakat.
Ia juga menekankan bahwa kondisi di Wanajaya memperlihatkan betapa pentingnya keberadaan infrastruktur penghubung yang layak.

“Kondisi ini juga menunjukkan bahwa keberadaan Jembatan Perintis Garuda Tahap II sangat penting dan mendesak bagi warga. Jembatan tersebut bukan hanya sarana penghubung, tetapi jalur vital untuk pelayanan kesehatan, pendidikan, dan aktivitas ekonomi masyarakat. Kodim 0610/Sumedang akan terus mendukung percepatan dan pengamanan proses pembangunannya agar segera dapat dimanfaatkan oleh warga.” pungkas Dandim.

Bagi aparat kewilayahan, dukungan terhadap pembangunan infrastruktur tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga menyangkut pengamanan dan pendampingan agar proses pembangunan berjalan lancar. Kodim 0610/Sumedang menyatakan komitmennya untuk terus bersinergi dengan pemerintah daerah dan masyarakat dalam mendorong percepatan pembangunan tersebut.

Kegiatan pelayanan kesehatan di Wanajaya menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga soal kehadiran negara di tengah masyarakat. Selama akses fisik belum sepenuhnya tersedia, kolaborasi dan gotong royong menjadi jembatan sementara yang memastikan warga tetap mendapatkan hak dasarnya.

Dalam konteks itu, pembangunan Jembatan Perintis Garuda Tahap II dipandang sebagai kebutuhan mendesak yang akan menentukan kualitas hidup warga ke depan. Keberadaan jembatan diharapkan tidak hanya mempermudah evakuasi pasien, tetapi juga membuka akses ekonomi dan pendidikan yang selama ini terhambat oleh kondisi geografis.

Melalui sinergi lintas sektor yang terus terjaga, pelayanan kesehatan di wilayah terpencil seperti Wanajaya diharapkan dapat berjalan lebih optimal, sembari menunggu hadirnya infrastruktur permanen yang menjadi harapan bersama masyarakat.